Tuesday, 26 November 2019

Dukung Agnes Mo, Pilih Nella Kharisma


Sebagian besar publik +62 tersulut emosinya oleh pernyataan mantan artis cilik Agnes Monica, yang mengaku tidak memiliki darqh asli Indonesia, melainkan China, Jepang,  Jerman. 

Di negeri yang memang gemar ribut ini, dalam sekejab menyebar hingga pelosok nusantara, menilai pernyataan si "Pernikahan Dini" ini tidak memiliki jiwa patriot dan cinta tanah air. 
Sumpah, entah kenapa, saya tidak pernah tertarik dengan genre musik, lagu-lagunya maupun sinetron yang dibintangi Agnes. 

Soal genre musik, (masa kini)  hati - jiwa - telinga saya lebih mampu menyerap pun mencerna musik dangdut + koplo - jandhut,   Nella Kharisma. 

Untuk kasus Agnes Mo,  bukannya saya membela atau pro,  menurut pribadi saya sama sekali tidak terkait dengan jiwa patriotisme maupun nasionalisme Agnes yang konon lahir di Kota Surabaya Jawa Timur itu. 

Pak, bagaimana caranya menulis?


Sama sekali tidak terkait. 

Saya berkeyakinan pernyataan Agnes itu hanya menyangkut gen ataupun DNA. 
Maksud saya, jika persoalan ini dibahas dari sisi disiplin antropologi budaya atau teori persebaran manusia, mungkin kita baru mengerti jika penduduk nusantara ini semuanya pendatang. 

Kegaduhan ini, menurut saya, karena sebagian besar menanggapi pernyataan Agnes hanya berdasar emosi, dan seperti biasanya hasil mencermati postingan plus komentar sepotong netizen. 

Ketika emosi publik +62 meledak, saya bertanya dalam hati,Trus masalahnya apa?  Lha wong di media sosial ada kampanye anti asing dan aseng. Narasi narasi yang dibangun untuk membangkitkan sentimen negatif terhadap warga keturunan negeri paman Jacky Chan. Dan ketika sedikit ada aroma china, auto terkait PKI. Padahal secara konstitusi PKI sudah lama dibubarkan dan negara ini menolak segala bentuk dan turunannya menyangkut PKI,  dan bahkan komunis secara ideologi.

baca juga Blogger, Pilihanku

***
Soal Agnes ini mungkin seperti kisah saya tahun 2006 silam. Kala itu saya ditugaskan manajemen PT Poso Energy untuk belajar menerbangkan pesawat jenis Trike di Lido Flying School - Sukabumi. Pada satu kesempatan, saya  ngobrol bercanda dengan teknisi yang saya lupa namanya menggunakan Bahasa Jawa. 

Mendengar candaan kami, instruktur terbang saya, Opung Gerhard Sitorus penuh heran menyela, karena sejak awal jumpa tak begitu nampak dialek medok khas jawa saya, yang justru dominan khas Indonesia Timur, karena kebetulan pula di lingkungan Lido banyak orang asal Manado, dan nyambung dengan saya. 

"Lu katanya orang Palu Jok, kok ngobrolnya  pake Jawa," heran opung yang kini telah meninggal. 
"Saya orang Palu, tapi lahir di Jawa dan orang tua asli jawa," jawab saya. 

Kenapa opung heran, saya orang palu kok ngobrol pakai bahasa jawa. 

Nah, mungkin konteks dialog Agnes dengan Mike Kevan juga mirip seperti ini. Mungkin Mike heran kenapa Agnes tidak seperti kebanyakan orang Indonesia, disinilah Agnes menyebut perbedaan yang nampak pada fisik luarnya, karena dia merupakan percampuran darah China, Jepang dan Jerman. 
Karena mungkin juga, kenapa orang Nusa Tenggara Timur maupun Timor Leste secara fisik juga beda dengan orang jawa, karena orang NTT konon memiliki garis sejarah dengan Portugis, atau orang Manado kenapa nampak beda dengan orang bugis. 

Halllah.... 
Sak karebmu wis, yang penting Nella Kharisma masih nyanyi cendol dawet.


Disqus Comments