Sebagian besar publik +62 tersulut emosinya oleh pernyataan
mantan artis cilik Agnes Monica, yang mengaku tidak memiliki darqh asli
Indonesia, melainkan China, Jepang, Jerman.
Di negeri yang memang gemar ribut ini, dalam sekejab
menyebar hingga pelosok nusantara, menilai pernyataan si "Pernikahan
Dini" ini tidak memiliki jiwa patriot dan cinta tanah air.
Sumpah, entah kenapa, saya tidak pernah tertarik dengan
genre musik, lagu-lagunya maupun sinetron yang dibintangi Agnes.
Soal genre musik, (masa kini) hati - jiwa - telinga
saya lebih mampu menyerap pun mencerna musik dangdut + koplo - jandhut,
Nella Kharisma.
Untuk kasus Agnes Mo, bukannya saya membela atau
pro, menurut pribadi saya sama sekali tidak terkait dengan jiwa
patriotisme maupun nasionalisme Agnes yang konon lahir di Kota Surabaya Jawa
Timur itu.
Pak, bagaimana caranya menulis?
Sama sekali tidak terkait.
Saya berkeyakinan pernyataan Agnes itu hanya menyangkut gen
ataupun DNA.
Maksud saya, jika persoalan ini dibahas dari sisi disiplin
antropologi budaya atau teori persebaran manusia, mungkin kita baru mengerti
jika penduduk nusantara ini semuanya pendatang.
Kegaduhan ini, menurut saya, karena sebagian besar
menanggapi pernyataan Agnes hanya berdasar emosi, dan seperti biasanya hasil
mencermati postingan plus komentar sepotong netizen.
Ketika emosi publik +62 meledak, saya bertanya dalam
hati,Trus masalahnya apa? Lha wong di media sosial ada kampanye anti
asing dan aseng. Narasi narasi yang dibangun untuk membangkitkan sentimen
negatif terhadap warga keturunan negeri paman Jacky Chan. Dan ketika sedikit
ada aroma china, auto terkait PKI. Padahal secara konstitusi PKI sudah lama
dibubarkan dan negara ini menolak segala bentuk dan turunannya menyangkut
PKI, dan bahkan komunis secara ideologi.
baca juga Blogger, Pilihanku
***
Soal Agnes ini mungkin seperti kisah saya tahun 2006 silam.
Kala itu saya ditugaskan manajemen PT Poso Energy untuk belajar menerbangkan
pesawat jenis Trike di Lido Flying School - Sukabumi. Pada satu kesempatan,
saya ngobrol bercanda dengan teknisi yang saya lupa namanya menggunakan
Bahasa Jawa.
Mendengar candaan kami, instruktur terbang saya, Opung
Gerhard Sitorus penuh heran menyela, karena sejak awal jumpa tak begitu nampak
dialek medok khas jawa saya, yang justru dominan khas Indonesia Timur, karena
kebetulan pula di lingkungan Lido banyak orang asal Manado, dan nyambung dengan
saya.
"Lu katanya orang Palu Jok, kok ngobrolnya pake
Jawa," heran opung yang kini telah meninggal.
"Saya orang Palu, tapi lahir di Jawa dan orang tua asli
jawa," jawab saya.
Kenapa opung heran, saya orang palu kok ngobrol pakai bahasa
jawa.
Nah, mungkin konteks dialog Agnes dengan Mike Kevan juga
mirip seperti ini. Mungkin Mike heran kenapa Agnes tidak seperti kebanyakan
orang Indonesia, disinilah Agnes menyebut perbedaan yang nampak pada fisik
luarnya, karena dia merupakan percampuran darah China, Jepang dan Jerman.
Karena mungkin juga, kenapa orang Nusa Tenggara Timur maupun
Timor Leste secara fisik juga beda dengan orang jawa, karena orang NTT konon
memiliki garis sejarah dengan Portugis, atau orang Manado kenapa nampak beda
dengan orang bugis.
Halllah....
Sak karebmu wis, yang penting Nella Kharisma masih nyanyi
cendol dawet.
