Tuesday, 3 December 2019

Pak, bagaimana caranya menulis?



Pertanyaan serupa ini berulang saya temui.  Biasanya langsung saya jawab, "Ambil buku, polpen, duduk dikursi samping meja,  begitu,".

Respon penanya?  Biasa nyengir plus nggondok dalam hati yang terekspresi dalam mimik wajahnya. Atau, kalau yang terbiasa bercanda akan lanjut bertanya setengah membantah, "Maksudnya...,".

Jika sudah ada respon lanjutan, mulailah penjelasan seadanya, sesuai keterampilan saya. Mulai dari siapkan laptop, buka word dan mengetik hingga semua habis semua isi kepala.
Pertanyaan selanjutnya, biasanya, sebelum mengetik ramai sekali ide dalam kepala. Tapi begitu dimulai, selesai dua kalimat saja harus melalui cucuran keringat. 

Dukung Agnes Mo, Pilih Nella Kharisma


Nah, kalau saya, menulis jangan dipikir, tapi  mengikuti alir dan alur kepala. Karena kalau dipikir akan hilang dan dan berhenti tiba-tiba. Pikiran bisa berubah tiap saat, olehnya itu menulis dari apa yang sudah dialami dan dirasakan. Selesaikan, jika merasa sudah ribuan karakter,  rapikan susunan kalimatnya. Jika keluar dari alur,  jangan dihapus atau dibuang, tapi pindahkan untuk kemudian rangkaikan dengan simpanan yang sealur.

Blogger, Pilihanku


Selanjutnya akan bertanya, tulisanku jelek. 

Biasanya akan saja jawab, sebagus-bagusnya tulisanmu pasti ada yang bilang jelek. Sebaliknya, sejelek-jelek tulisanmu pasti ada yang bilang bagus. Karena bagus dan jelek itu tergantung masing-masing orang. Dan berpikirlah, kita menulis bukan untuk orang lain, melainkan untuk diri kita sendiri. Anggaplah apresiasi positif dari orang lain adalah bonus. 

Menulislah. 



Disqus Comments