Pertanyaan serupa ini berulang saya temui. Biasanya langsung saya
jawab, "Ambil buku, polpen, duduk dikursi samping meja,
begitu,".
Respon penanya? Biasa nyengir plus nggondok dalam hati yang
terekspresi dalam mimik wajahnya. Atau, kalau yang terbiasa bercanda akan
lanjut bertanya setengah membantah, "Maksudnya...,".
Jika sudah ada respon lanjutan, mulailah penjelasan seadanya, sesuai
keterampilan saya. Mulai dari siapkan laptop, buka word dan mengetik hingga
semua habis semua isi kepala.
Pertanyaan selanjutnya, biasanya, sebelum mengetik ramai sekali ide dalam
kepala. Tapi begitu dimulai, selesai dua kalimat saja harus melalui cucuran
keringat.
Dukung Agnes Mo, Pilih Nella Kharisma
Nah, kalau saya, menulis jangan dipikir, tapi mengikuti alir dan alur
kepala. Karena kalau dipikir akan hilang dan dan berhenti tiba-tiba. Pikiran
bisa berubah tiap saat, olehnya itu menulis dari apa yang sudah dialami dan
dirasakan. Selesaikan, jika merasa sudah ribuan karakter, rapikan susunan
kalimatnya. Jika keluar dari alur, jangan dihapus atau dibuang, tapi
pindahkan untuk kemudian rangkaikan dengan simpanan yang sealur.
Blogger, Pilihanku
Biasanya akan saja jawab, sebagus-bagusnya tulisanmu pasti ada yang bilang
jelek. Sebaliknya, sejelek-jelek tulisanmu pasti ada yang bilang bagus. Karena
bagus dan jelek itu tergantung masing-masing orang. Dan berpikirlah, kita
menulis bukan untuk orang lain, melainkan untuk diri kita sendiri. Anggaplah
apresiasi positif dari orang lain adalah bonus.
Menulislah.
